
Sebagai kaum muslim kita sering melafadzkan kalimat لا اله
الا الله محمد
رسول الله (laa ilaaha illallah
Muhammad Rasulullah) atau yang lebih dikenal dengann kalimat tauhid. Tapi
selama ini kita hanya sebatas melafadzkannya dengan lisan tanpa dibarengi
dengan kamantapan hati serta pengetahuan tentang makna dan hakekat kalimat
tersebut. Padahal kalimat tauhid mengandung makna yang sangat dalam dan
memberikan pengaruh yang luas bagi kehidupan manusia di dunia ini.
Kalimat laa ilaaha illallah terdiri atas nafyu “laa ilaaha”
dan itsbat “illallah”. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Artinya seorang muslim
tidak boleh hanya melafadzkan nafyu-nya tanpa itsbat atau sebaliknya hanya
meng-itsbat-kan tanpa me-nafyi-kan.
Kalimat tauhid harus merupakan perkataan hati dan sekaligus
perkataan lidah. Perkataan hati mencakup pengetahuan mengenai kalimat itu dan
pembenarannya, mengetahui sebenar-benarnya apa yang dikandungya berupa
penafsiaran dan penetapan, mengetahui hakekat sesembahan yang dinafikan selain
Allah, mengetahui sesembahan yang dikhususkan kepada-Nya, dan yang lainnya
mustahil ditetapkan sebagai sesembahan. Menerapkan pengertian ini dengan
melibatkan hati sanubari yang didasari pengetahuan, ma’rifat, keyakinan dan kondisi
adalah merupakan syarat diharamkannya neraka bagi orang yang mengatakannya. Di
dalam shahih Muslim disebutkan sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang
mengucapkan laa ilaaha illallah serta mengkufuri apa yang disembah selain
Allah, maka diharamkan harta dan darahnya sedang perhitungannya ada pada
Allah.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Hakekat laa ilaaha
illallah adalah tidak ada kesenangan dan kenikmatan yang sempurna bagi hati
kecuali dalam kecintaan kepada Allah dan bertaqarrub kepada-Nya dengan
mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya. Kecintaan tak akan terjadi kecuali
dengan berpaling dari kecintaan selain-Nya, sedangkan Muhammad Rasulullah
adalah secara murni mengerjakan apa yang beliau perintahkan dan menahan dari
apa yang dilarang dan dicegah beliau.”
Sedangkan Ibnu Qoyyim berpendapat: “Tauhid bukan sekedar
pernyataan seseorang hamba bahwa tiada pencipta selain Allah, Allah adalah Rabb
dan penguasa segala sesuatu, sebagaimana orang-orang yang menyembah berhala
juga menyatakan seperti itu, tetapi tetap dalam kemusyrikan. Tauhid mengandung
kecintaan kepada Allah, tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya, patuh
sebenar-benarnya untuk taat kepada-Nya, memurnikan ibadah kepada-Nya,
menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha Tinggi dengan segenap
perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan, mencinta dan marah karena-Nya,
serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menyeret kepada kedurhakaan
kepada-Nya. Barangsiapa mengetahui hal itu tentua mengetahui sabda Nabi:
“Sesungguhya Allah mengharamkan api neraka atas orang yang mengucapkan laa
ilaaha illallah karena dengan ucapannya itu ia mengharap pertemuan dengan
wajah-Nya.” Dan juga sabdanya: “Tidak masuk neraka orang yang mengatakan laa
ilaaha illallah.”
Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “Inilah penjelasan
yang paling penting tentang makna laa ilaaha illallah. Sekedar ucapan tauhid
ini saja belum mampu menjaga darah dan harta, bahkan juga tidak hanya sebatas
pada penetapannya saja, tidak terbatas pada perbuatannya yang tidak berdo’a kecuali
kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Harta dan darahnya tidak
diharamkan bila seseorang menambahi kekufurannya dengan sesuatu yang disembah
selain Allah. Andaikata ia bimbang dan ragu-ragu tentang kalimat ini, maka
darah dan hartanya tidak diharamkan. “
Lebih lanjut lagi Muhammad bin Wahab menjelaskan kalimat
tauhid mempunyai kepentingan membebaskan manusia dari penyembahan sebagian
diantara manusia terhadap sebagian yang lain kepada penyembahan Dzat Yang Maha
Esa dan Yang Maha Kuasa. Taqwa menjadi ukuran dan kebanggaan yang selalu
diharapkan manusia, bukan tradisi jahiliyah yang diwariskan bapak dan nenek
moyang kepada anak-anaknya. Maka setiap muslim yang benar-benar dalam
keislamannya akan memperoleh kebebasan menyelami kalimat ini, sehingga ia
termasuk orang yang menyembah Allah berdasarkan pengetahuan, kepandaian dan
keyakinan.
Pengaruh Kalimat laa ilaaha illallah dalam Kehidupan Manusia
Seperti halnya shalat, kalimat tauhid juga memberikan
pengaruh pada diri seorang muslim dalam kehidupannya. Al-Maududi menyebutkan
ada sembilan pengaruh kalimat laa ilaaha illallah dalam kehidupan manusia:
Pertama, dengan kalimat ini pandangan seorang muslim tidak
menjadi sempit, berbeda dengan orang yang mengakui banyak sesembahan, terlebih
lagi bagi yang mengingkari-Nya.
Kedua, menumbuhkan kehormatan dan harga diri yang tidak bisa
diperbuat oleh sesuatu yang lain.
Ketiga, menumbuhkan sikap tawadhu’ tanpa menghinakan dan
rendah hati tanpa menyombongkan diri.
Keempat, seorag mukmin akan mengetahui secara yakin, tiada
jalan keselamatan dan keberuntungan kecuali dengan menyucikan diri dan beramal
sholeh.
Kelima, tidak tersusupi rasa putus asa, sebab ia yakin Allah
mempunyai simpanan di langit dan di bumi.
Keenam, menunjukkan manusia kepada kekuatan besar berupa
ambisi, keberanian, sabar, keteguhan hati, dan tawakkal ketika mengemban
urusan-urusan penting karena mengharap ridha Allah, dan juga merasakan satu
kekuatan yang menguasai langit dan bumi.
Ketujuh, menggerakkan keberanian pada manusia dan mengisi
hati dengan semangat. Karena yang membuat manusia menjadi takut dan melemahkan
ambisinya ada dua hal, yaitu; kecintaan terhadap dirinya sendiri, harta dan
keluarga serta keyakinannya bahwa disana ada seseorang selain Allah yang dapat
mematikan manusia.
Kedelapan, mengangkat kemampuan manusia, menumbuhkan
ketinggian, kepuasan dan kecukupan, membersihkan hati dari noda-noda kerakusan,
tamak, dengki, rendah diri, suka mencela dan sifat-sifat kurang baik lainnya.
Kesembilan, iman kepada laa ilaaha illallah menjadikan
seorang mukmin selalu terkait dengan syari’at Allah dan sekaligus menjaganya.
Ibnu Rajab menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan kalimat
tauhid: “Allah tidak melimpahkan kenikmatan kepada seorang hamba lebih besar
daripada memberinya pengetahuan tentang laa ilaaha illallah. Kalimat ini bagi
para penghuni surga bagaikan air dingin bagi para penduduk dunia. Karenanya
disediakan daruts-tsawab dan darul iqab. Karenanya pula para rasul
diperintahkan berjihad. Maka barangsiapa yang menyatakannya, harta dan darahnya
terjaga. Dan barangsiapa yang tidak mau mengatakannya, harta dan darahnya
dihalalkan. Kalimat ini merupakan kunci surga dan kunci dakwah para rasul.”
Maka dari itu, megapa Allah menjadikan kalimat tauhid
sebagai rukun Islam yang pertama dan yang terpenting dalam Islam? Yaitu untuk
menjadikan seseorang manusia sebagai muslim. Yang dimaksudkan muslim adalah
hamba yang taat dan tunduk kepada Allah. Seseorang tidak bisa disebut hamba
Allah kecuali ia benar-benar beriman dari hatinya bahwa tidak ada illah selain
Allah. Karena kita akan menjadi muslim sejati dengan mengamalkan semua perintah
Allah dan menjauhi larangan-Nya jika kita sudah memiliki keyakinan yang kuat
tentang kebenaran-kebenaran Islam yang dimulai dari rukunnya yang pertama.
Wallahu a’lam bishshowab.
No comments:
Post a Comment